Champion league di kuasai Tim Inggris

Situasi di first knock-out round Liga Champion 2008/09 mengarah ke klub-klub Inggris. Dari tiga duel klub Inggris versus Italia, negeri Pangeran Charles unggul atas jagoan Negeri Piza. Skornya bisa disebut 3-0 ketika hasil imbang 0-0 yang didapat Man. United di kandang Inter Milan dianggap sebuah keunggulan. Dua klub lain, Arsenal dan Chelsea, sanggup menang 1-0 atas AS Roma dan Juventus.
Fenomena lain? Lihatlah, tak satu pun gol bisa bersarang ke gawang wakil-wakil Premier League di Liga Champion. Termasuk Liverpool, yang menang 1-0 di markas Real Madrid. Hanya, ada catatan miris saat menonjolkan prestasi anggota The Big Four Premier League. Tak satu pun dari keempat jawara Inggris ini memiliki penjaga gawang utama pria lokal. Bila mengutip sindiran para pengamat di Eropa, klub-klub Inggris tak memercayai kiper sendiri. Selama ada uang, mereka memilih sosok tangguh di bawah mistar dari negara lain.
Bila kita memakai hitungan statistik di 16 besar Liga Champion, hanya ada 3% penjaga gawang Inggris. Sial bagi Fabio Capello, pria Italia yang menangani The Three Lions, ia tak bisa memakai pengalaman berharga di Liga Champion untuk membawa Steven Gerrard dkk. meraih tiket Piala Dunia 2010.
Peluang terdekat untuk itu hanya ada pada Ben Foster, goalkeeper berusia 25 tahun yang sekali diberi kesempatan oleh Sir Alex Ferguson. Setelah Foster, kiper ketiga Man. United, Capello disodorkan pemuda berusia 18 tahun. Namanya Ben Amos, pilihan keempat Sir Alex.
Tidakkah insan-insan sepakbola Inggris rindu memiliki kiper setangguh Peter Shilton atau David Seaman? Sungguh sebuah ironi. Ketika Premier League menyebut diri sebagai liga terbaik dan rumah bagi para pesepak bola kelas wahid, mereka tidak menyediakan seorang kiper untuk mengharumkan nama negara.
Bukankah pengalaman dalam pertandingan kelas atas akan mematangkan performa seorang penjaga gawang? Spanyol mengirimkan 15 kiper di pentas LC 2008/09 dari 64 goalkeeper yang terdaftar di UEFA. Ini fondasi kokoh untuk membangun tim nasional. Hasilnya sudah terbukti, trofi Piala Eropa 2008.
Edwin van der Sar, Petr Cech, Manuel Almunia, dan Pepe Reina telah mengantarkan klub-klub Inggris berstatus clean-sheet di matchday 1 fase 16 besar. Kiper seperti David James (Portsmouth), Joe Hart (Manchester City), Robert Green (West Ham United), hingga Chris Kirkland (Wigan Athletic) jelas bermimpi seperti itu.
Kapan publik Inggris akan melihat putra-putra lokal mereka berjibaku di ajang paling elite antarklub Eropa itu? Sebuah pertanyaan yang tentunya harus dijawab melalui keterampilan di bawah mistar di laga-laga domestik terlebih dahulu.
Tapi, tanpa kesempatan dari klub-klub kaya pelanggan LC, tim nasional Inggris akan tetap merana karena dominasi kiper-kiper asing di rumah mereka. Sungguh sebuah ironi dari negara kaya yang mengaku penemu sepak bola.(Platk)